PERAN MAHASISWA DAN ALUMNI BIDIKMISI DALAM GERAK SEJARAH BANGSA

Indonesia diproyeksikan akan menjadi bangsa yang maju dan kuat pada tahun 2045. Sejumlah pakar memprediksi, Indonesia bakal menjelma sebagai salah satu kekuatan dunia saat itu. Kemudian berkali-kali para petinggi negeri ini meyakinkan rakyat, bahwa Indonesia di masa mendatang bakal menjadi negara yang hebat. Setidaknya saat itu Indonesia bakal masuk dalam kategori sepuluh dan bahkan lima besar negara yang digdaya sosial-ekonominya. Akan harapan indah ini, tentu saja sebagai warga negara yang baik, saya turut berdoa dan mengamininya. Tapi sayangnya, di 75 tahun umur bangsa Indonesia ini saya merasa justru sebaliknya. Agak menyedihkan memang. Mimpi menjadi bangsa yang hebat dan maju, tapi kualitas budaya dan peradabannya malah dipicu dan terpicu untuk bergerak dan berjalan mundur belakangan ini. Proyeksi Indonesia bakal menjelma sebagai salah satu kekuatan dunia seperti mengharapkan tumbuhnya pohon rindang dengan buah yang lebat, tapi anehnya malah ratusan akar pohon benalu dibiarkan tumbuh melingkar di seluruh batang. Pohon bukan bertambah kuat, kekar, sehat dan besar, tapi malah kurus kering kerontang dan sakit-sakitan. Ironi lewat ilustrasi di ini dapat kita temui dalam kehidupan bernegara kita belakangan ini. Ambil saja tentang ribut-ribut masalah larangan ini itu seputar rumah ibadah. Hanya karena beda agama, mayoritas penduduk di suatu daerah yang beragama A, melarang dibangunnya bahkan hanya sekadar direnovasinya rumah ibadah dari kelompok minoritas pemeluk agama B. Beda agama ribut. Beda cara pelaksanaan ritual keagamaan ribut. Satu agama beda mashab ribut. Beramal beda cara ribut. Dan masih banyak lagi yang ribut seputar haram-halal, kafir-non kafir, dosa-pahala, dan seterusnya. Kemudian Soal Pancasila pun sampai hari ini belum juga selesai diotak-atik. Apa yang begini ini ciri-ciri dari masyarakat sebuah bangsa yang bakal menjadi hebat dan digdaya? Ada lagi sogok menyogok atau korupsi yang begitu vulgar dan mewabah. Beda pilihan ribut. Beda pendapat ribut. Tapi beda pendapatan, tenang-tenang saja. Beginikah ciri-ciri dari masyarakat dan pemimpin sebuah bangsa yang konon kelak bakal hebat dan digdaya? Sebuah bangsa yang bakal besar dan digdaya ada ciri-ciri minimumnya. Di antaranya memiliki kejelasan tujuan. Masyarakat dan pemimpinnya, tak gemar korupsi. Pemimpinnya visioner dan masyarakatnya dirangsang untuk kreatif, inovatif, produktif, SDM pemuda nya unggul dan berdaya saing, Masyarakat diarahkan untuk hidup mandiri, bangga terhadap apa yang menjadi milik sendiri, percaya diri, dan bukan yang tidak tau diri… apalagi tak punya harga diri! Dan masih banyak lagi.
Namun demikian kita tentu harus tetap optimis karena Indonesia Emas tahun 2045 bukanlah sebuah gagasan atau wacana yang muncul tanpa sebab. Ada alasan kuat mengapa kita boleh optimis Indonesia akan menjadi negara maju, mandiri, makmur, dan adil, tepat di saat bangsa ini berumur satu abad. Ya, alasannya adalah bonus demografi! Indonesia akan mendapatkan bonus demografi pada periode tahun 2020-2045. Artinya 70 persen dari total jumlah penduduk Indonesia berada dalam usia produktif (15-64 tahun). Di saat proporsi penduduk usia produktif jauh lebih besar dibandingkan tidak produktif, maka muncullah kesempatan atau jendela peluang (window of opportunity). Ini adalah kesempatan emas bagi bangsa Indonesia untuk memacu produktivitasnya dan menjadi besar. Ketika penduduk usia produktif yang melimpah itu hidup dengan benar-benar produktif (bekerja), maka ekonomi melesat dan Indonesia menjadi kekuatan ekonomi dunia. Sebaliknya, jika Indonesia tidak dapat memanfaatkan peluang ini, atau tak mampu memberdayakan harta karun demografi itu, maka Indonesia akan menghadapi bencana kependudukan. Angka pengangguran yang meledak akan memicu berbagai persoalan sosial. Kemiskinan, kriminalitas, ketimpangan ekonomi, dan lainnya.
Fokus bonus demografi ini adalah Pemuda nya karena pemuda bagian dari penduduk usia produktif tersebut. Bagian dari tulang punggung bangsa. Dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2009, pemuda adalah warga negara Indonesia berusia 16 sampai 30 tahun. Tentunya posisi tersebut semakin menempatkan pemuda sebagai posisi yang penting. Sehingga kualitas pemuda masa kini menjadi penentu kualitas penduduk Indonesia di masa depan. Kualitas tersebut sebagian bergantung pada apakah mereka sehat dan berpendidikan? apakah mereka memiliki pekerjaan dan perekonomian yang bagus? Selanjutnya, bagaimana pemuda akan berproses dewasa, menyiapkan masa depannya dan anak cucu, tentunya dibutuhkan keteladanan dan kebijaksanaan seluruh elemen bangsa, termasuk pemuda di dalamnya untuk menentukan sikap. Menyadari begitu strategisnya peran dan fungsi yang melekat pada pemuda, setidaknya bisa kita lihat atensi pemerintah pada 2 periode berjalan pemerintah Indonesia untuk mengembangkan segenap potensi yang ada melalui penyadaran, pemberdayaan, pengembangan kepemudaan di segala bidang, sebagai bagian dari pembangunan nasional. Hal ini dituangkan dalam agenda Nawa Cita dan RPJMN IV 2020-2024, namun pertanyaan nya kemudian sudah sejauh mana pelaksanaan agenda besar ini? Tentu harapan nya ialah agar tidak ada pemuda yang akan tertinggal jika masa depannya terencana. Seluruh arah kebijakan dan strategi tersebut harus tertuju dan bertujuan untuk membentuk pribadi pemuda yang berkarakter, maju, dan mandiri. Karena sesungguhnya dalam setiap pergantian masa dan perubahan zaman, pemuda menjadi salah satu sosok yang mampu menginspirasi dan mengiringi proses transisi yang terjadi. Sebagaimana perjalanan panjang negeri ini yang terbentuk melalui semangat, pengorbanan pemuda pejuang bangsa. Lahirnya Politik Etis Belanda (1900-1942) mengawali peluang bangsa Indonesia untuk mulai bangkit dan menyusun kekuatan melalui gerakan pemudanya. Pada saat itu juga lahir gerakan R.A. Kartini (1879-1904) yang menunjukkan betapa gender dan usia tidak menghalangi seseorang untuk memberikan peran dan pengaruhnya dalam masyarakat. Selanjutnya muncul pergerakan Budi Utomo tahun 1908, Sumpah Pemuda tahun 1928, sampai dengan pergerakan mahasiswa pada tahun 1998 yang meruntuhkan kekuasaan orde baru selama 32 tahun, sekaligus membawa bangsa Indonesia memasuki periode reformasi. Fakta historis ini menjadi salah satu bukti bahwa pemuda merupakan pionir dalam proses perjuangan, pembaruan, dan pembangunan bangsa. Hingga hari ini, para pemuda dituntut mengisi kemerdekaan dengan kontribusi di berbagai sektor, hingga menghasilkan berbagai karya dan inovasi. Lalu dimana Peran Mahasiswa Dan Alumni Bidikmisi Dalam Gerak Sejarah Bangsa?
Dimulai dari sejarah Bidikmisi itu sendiri yang mana kata Bidikmisi adalah singkatan dari Bantuan Pendidikan Mahasiswa Miskin Berprestasi, yang merupakan dana pendidikan dari pemerintah melalui Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) yang diserahkan kepada calon Mahasiswa yang kurang mampu namun memiliki sejumlah prestasi akademik maupun prestasi minat dan bakat. Yang juga merupakan program kerja 100 hari kabinet SBY-Budiono periode 2010-2014. Program yang diluncurkan oleh “Bapak Bidikmisi” itu dilaksanakan pada tahun 2010, Adapun Misi dan Tujuan diselengarakannya Beasiswa ini, antara lain:
1 Menghidupkan harapan bagi masyarakat kurang mampu untuk terus menempuh sampai ke jenjang pendidikan tinggi.
2 Menghasilkan sumber daya insani yang mampu berperan dalam memutus rantai kemiskinan.
3 Meningkatkan motivasi belajar dan prestasi calon mahasiswa, khususnya mereka yang menghadapi kendala ekonomi.
4 Meningkatkan akses dan kesempatan belajar di perguruan tinggi bagi rakyat Indonesia yang berpotensi akademik tinggi dan kurang mampu secara ekonomi.
5 Menjamin keberlangsungan studi mahasiswa sampai selesai.
6 Meningkatkan prestasi mahasiswa, baik pada bidang akademik/kurikuler, ko-kurikuler maupun ekstra kurikuler.
7 Menimbulkan dampak iring bagi mahasiswa dan calon mahasiswa lain untuk selalu meningkatkan prestasi.
8 Melahirkan lulusan yang mandiri, produktif dan memiliki kepedulian sosial, sehingga mampu berperan dalam upaya pengentasan kemiskinan.
Dengan kata lain, bahwa beasiswa ini sejatinya diperuntukan bagi calon Mahasiswa yang memiliki prestasi namun terkendala di kondisi ekonominya. Dan setelah beasiswa ini didapatkan, harapannya si penerima Beasiswa dapat memberikan kontribusinya untuk bangsa dan negara. Sejalan dengan ikhtiar panjang dalam menyongsong Indonesia emas 2045. Sadar sepenuhnya terhadap panggilan sejarah dan tanggung jawab sebagai generasi penerus perjuangan cita-cita bangsa, mahasiswa penerima Bidikmisi berdasarkan nilai luhur Pancasila dan UUD 1945, berhimpun dalam wadah organisasi kepemudaan yang dikenal “Permadani Diksi Nasional” dalam rangka memberikan sumbangsih demi terwujudnya generasi emas Indonesia dan memutus rantai kemiskinan. Permadani Diksi Nasional adalah akronim dari Persatuan Mahasiswa dan Alumni Bidikmisi Nasional yang merupakan organisasi Nasional mahasiswa dan alumni BIDIKMISI. “Permadani Diksi Nasional” dideklarasikan dalam forum silaturahim bidikmisi nasional di Jakarta tanggal 27 Februari 2014 dan didirikan pada acara Silaturahim dan Musyawarah Permadani Diksi Nasional di Makassar pada tanggal 10 April 2015. Setidaknya ini yang harus menjadi ingatan bagi generasi Bidikmisi hari ini. Bagaimana perjuangan para pendahulu memberikan inisiatif dalam mendirikan wadah “Permadani Diksi Nasional” yang berdasarkan kebutuhan mahasiswa dan alumni Bidikmisi untuk mempersatukan semangat serta cita-cita mahasiswa bidikmisi se-Indonesia. Sebagai organisasi nasional, komitmen “Permadani Diksi Nasional” dalam mempersatukan dan meningkatkan sumber daya mahasiswa serta alumni bidikmisi harus selalu dirawat. Lewat penyelenggaraan berbagai program kerja guna mengembangkan arah perluasan wawasan, peningkatan kecendikiawanan serta integritas kepribadian di tingkat nasional guna mencetak generasi emas Indonesia. Tentu banyak evaluasi dan proyeksi yang menjadi pekerjaan rumah kita bersama-sama hari ini dan kedepan. Sebagai bahan renungan dan aktualiasai diri untuk kita mahasiswa dan alumni bidikmisi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam suratnya kepada mahasiswa peraih Bidikmisi tertanggal 11 Maret 2014, menegaskan sebuah harapan atas masa depan lulusan Bidikmisi. “Saya ingin pada saatnya nanti, ikutlah mengubah jalannya sejarah. Bayar dan tebuslah apa yang telah negara berikan kepada kalian semua…” Demikian petikan Pak SBY yang mengingatkan betapa besarnya beban yang ditanggungkan para generasi Bidikmisi: ”mengubah jalannya sejarah” dan tentunya dengan paradigma baru yang mengarah pada kemajuan bangsa.
Beasiswa ini tidak boleh hanya melahirkan kelas priyayi baru yang asyik dengan zona nyamannya sendiri-sendiri. Melainkan generasi Bidikmisi harus mampu menyokong perubahan zaman dengan kepekaan sosialnya sebagai anak-anak bangsa. Kalau kita membaca kisah-kisah menarik, yang mengandung nilai motivasi dan pengharapan dari buku “Para Pembidik Mimpi: 99 Kisah Penerima Bidikmisi Berprestasi”, tentu optimisme tentang kebangkitan Generasi Bidikmisi sebagai bagian dari kado 100 tahun Indonesia sangatlah niscaya. Diantara mereka banyak yang kemudian melakukan studi lanjut di perguran tinggi ternama di tanah air maupun di manca negara. Tidak heran kalau M. Nuh dalam buku “Menyemai Kreator Peradaban” juga menyatakan optimis bahwa “dalam 5-10 tahun mendatang akan hadir di negeri tercinta ini ribuan master dan doktor dari keluarga miskin”. Kita berharap dengan SDM yang tidak sedikit disertai dengan upaya-upaya mahasiswa dan lulusan Bidikmisi terus berlangsung dalam menghimpun dirinya pada sebuah Wadah jejaring mahasiswa dan alumni bidikmisi yakni “Permadani Diksi Nasional” untuk tetap eksis ditengah-tengah perjalanan bangsa ini. Sebagaimana komitmen Permadani Diksi Nasional untuk menyatukan cita-cita bersama mahasiswa dan alumni Bidikmisi dalam rangka mewujudkan generasi emas Indonesia dan memutus mata rantai kemiskinan yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 serta Bhineka Tunggal Ika dan pokok-pokok perjuangan yang merupakan misi perjuangan organisasi di berbagai bidang yakni: Membangun pemuda yang berkarakter, berbudi pekerti luhur, terampil, cerdas, dan berprestasi serta berperan aktif dalam pembangunan nasional dan peningkatan daya saing bangsa di era globalisasi. Memajukan peran mahasiswa dan alumni Bidikmisi yang berkualitas dan berkarakter guna mempersiapkan generasi emas Indonesia. Mempererat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Pengabdian kepada masyarakat, bangsa, Negara dan lingkungan hidup. Ini lah yang menjadi modal bagi mahasiswa dan alumni bidikmisi dalam menentukan gerak sejarah bangsa indonesia untuk menyongsong satu abad Indonesia menuju Indonesia emas yang di cita-citakan.

 

By Reynaldi Eka Putra, sekretaris umum persatuan mahasiswa dan alumni bidikmisi nasional periode 2019-2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: