New normal kita jalani, namun pandemi belum juga usai. Seiring berjalanya waktu memaksa masyarakat untuk beradaptasi dengan kebiasaan baru dan tetap jaga jarak.
Indonesia belum lama ini memperingati hari iemerdekaan yang ke-75 dengan apresiasi pemerintah mengeluarkan uang baru senilai Rp75.000 sebagai simbol kemerdekaan ke-75. Bukanya mereda kian banyak problem- problem baru muncul saat pandemi. Mulai dari imbas kehilangan pekerjaan yang berdampak pada perekonomian keluarga, berita duka tentunya dari korban dan para tenaga medis yang gugur saat melakukan kewajibanya. Baru-baru ini vidio antrean di Bandung viral lantaran bukan antrean sembako atau bantuan sosial lainya melainkan antrean orang-orang yang ingin bercerai.

Dilansir dari CNN Indonesia “Panitera Muda gugatan pengadilan Agama soreang Ahmad Sadikin membenarkan vidio tersebut. Antrean terjadi sejak pagi hari sebelum persidangan dimulai pada pukul 09.00 WIB
Ahmad menyebutkan dalam satu hari pihaknya bisa melayani lebih dari 150 kasus gugatan cerai.
Tak kalah menghebohkan adalah pernikahan anak pada masa pandemi, kasus pernikahan anak ini rata-rata adalah remaja SMP. Di jepara sepanjang 2020 kasus pernikahan anak mencapai 234, di Kendal terdapat 179, Blora 203 kasus dan demak 157 kasus

Banyak faktor yang mendasari hal-hal tersebut salah satunya adalah psikologi seseorang saat pandemi kian berubah karena beberapa orang tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasanya, hal tersebut yang membuat psikis seseorang terganggu dan muncul rasa bosan, stres dan emosi yang kemudian menimbulkan pertengkaran dalam rumah tangga contohnya. Adapun beberapa orang memilih jalan pintas dengan menikahkan anaknya yang masih dibawah umur lantaran biaya ekonomi akhirnya sang anak yang masih duduk di bangku SMP terpaksa putus sekolah dan menikah dengan harapan agar adanya orang baru yang membiayai hidup anaknya. Banyak dampak negatif untuk sang anak tentunya ketika menikah dibawah umur karena usia kematangan baik reproduksi maupun mental belumlah cukup matang. Masalah ini tentunya bukan hal sepele yang bisa diremehkan, namun apa daya semua orang sedang berusaha bangkit karna jika diam dan mengeluh tak akan membuat beras menjadi nasi dengan pendamping lauk pauk yang sehat. Semua orang memutar otak, banting stir demi bisa bertahan hidup dan melewati pandemi ini.
Saat-saat seperti inilah baiknya kita sebagai manusia sosial baik dalam keluarga maupun masyarakat kekuatan spiritual sangatlah penting untuk membangun motivasi baru agar tak sampai melakukan hal-hal yang berdampak buruk dikemudian hari.

 

Opini by LA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: